Liputan TPD ke-31 KGB REMBANG Makna Merdeka Belajar dan Sosialisasi Komunitas Guru Belajar
Liputan
TPD
ke-31 KGB REMBANG
Makna
Merdeka Belajar dan Sosialisasi Komunitas Guru Belajar
Bagaimana cara untuk
mengatasi siswa yang sering terlambat dalam menyelesaikan tugas di rumah?
Apakah hukuman efektif
dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut?
Dari
masalah tersebut, kita bisa belajar lebih jauh lagi di Temu Pendidik Daerrah
(TPD) online yang ke-31 Komunitas Guru Belajar Rembang dengan tema Makna
Merdeka Belajar dan Sosialisasi Komunitas Guru Belajar
Pada diskusi kali ini,
KGB Rembang mengundang dua narasumber yaitu Bapak Joko Supriyanto sebagai ketua
KGB Rembang sekaligus menjadi guru di Sekolah Islam Umar Harun dan Ibu Siti
Rodliyah sebagai anggota KGB Rembang sekaligus menjadi kepala Sekolah SDI Umar
Harun, serta dipandu oleh Ibu Khoirul Muflichah menjadi anggota KGB Rembang dan
guru paud Sekolah Islam Umar Harun. Diskusi dilakukan melalui Via WhatsApp Grup
KGB Rembang, pada hari Sabtu, 10 April 2021, pukul 15.00-16.30.
Dua hari sebelum
diskusi, Tim KGB Rembang menyebarkan flayer. Dan untuk materi dikirim pagi sebelum diskusi, agar peserta yang
mengikuti diskusi bisa membaca dan memahami materi terebih dahulu. Diskusi
bulan ini modelnya sedikit bberbeda dengan diskusi bulan lalu. Jika bulan lalu
dari Tim KGB ada yang menghandle agar peserta yang mengikuti diskusi bisa
mengirimkan pertanyaan terlebih dahulu sebelum hari-H, tai untuk bulan ini
pertanyaan dibuka waktu diskusi dimulai. Berikut pertanyaan yang disampaikan
oleh peserta:
1. Bagaimana
si menjadi seorang guru yang reflektif kan biasanya kalau saya sendiri kan
merasa kalau ini sudah maksimal dan bagaimana cara kita meminta Umpan balik?
(Bu Laila, mengajar kelas 2 SD)
2. Bagaimana
cara memberdayakan murid agar mandiri menentukan cara ? (Bu Mira, mengajar
kelas 1 SD)
3. Menarik
sekali nih materi dari bu Rodliyah tentang Merdeka Belajar, bahwa merdeka
belajar itu bukan hanya berhenti pada Guru saja, tetapi murid yang merdeka
belajar juga diperlukan untuk proses belajar bermakna di sekolah. Pertanyaannya
karena komponen penting pendidikan itu adalah murid, guru, dan orang tua.
Bagaimana upanya atau pengalaman bu Rodliyah untuk mengajak orang tua bisa
merdeka belajar juga? mendampingi proses
belajarnya anak dimanapun tempatnya, mengingat ini masih ada sekolah yang melakukan
PJJ karena pandemi? (Bu Lia, mengajar TK-B)
4. Bagaimana
caranya menjadi seorang fasilitator yang mudah beradaptasi dengan murid yang
berbeda-beda karakter? (Pak Imam, mengajar kelas 1 SD)
Berhubung
untuk diskusi kali ini, ada satu narasumber yaitu Pak Joko izin ada urusan
mendadak, maka untuk pertanyaan dari peserta akan dijawab oleh Bu Rodliyah. Sebelum
Bu Rodliyah menjawab pertanyaan, Bu Rodliyah menyampaikan sedikit terkait inti
dari merdeka belajar yang telah dipelajari, sebagai berikut:
Orang
yang merdeka belajar itu orang yang berorientasi pada *tujuan untuk
mengembangkan diri dalam berbagai bidang. Kalau sudah berorienradi pada tujuan,
orang yang merdeka belajar juga mandiri menentukan cara yang sesuai untuk
mencapai tujuannya, bisa mengatur prioritas dan adaptif dengan perubahan. Sepanjang
proses di atas, orang yang merdeka belajar selalu berani berefleksi. Yaitu
mengevaluasi diri, apa kelebihan dan keterbatasannya, memikirkan apa yang perlu
ditingkatkan? Bagaimana caranya dan menilai pencapaian diri.
Berikut
jawaban narasumber untuk empat pertanyaan yang telah terkumpul:
1. Laila
: Bagaimana si menjadi seorang guru yang reflektif kan biasanya kalau saya
sendiri kan merasa kalau ini sudah maksimal dan bagaimana cara kita meminta umpan
balik?
Jawaban dari Bu
Rodliyah:
Wah.. bagaimana ya menjadi
guru yang reflektif? Dan bagaimana kita meminta umpan balik?
Jujur saya sebenarnya
juga masih proses belajar menerapkan merdeka belajar ya bu.. terutama guru yang
merdeka belajar. Jadi kita sama2 belajar☺
Jadi kalau pengalaman
saya selama proses menerapkan 'merdeka belajar', saya cenderung terbuka ( open
minded). Membuka diri tentang segala perubahan. Mencoba menelaah apakah cara
yang saya gunakan sudah sesuai dengan tujuan?
Lebih ke membiasakan
diri untuk mengevaluasi proses. Dan terkait minta umpan balik, biasanya saya
akan meminta umpan balik pada guru lain untuk perbaikan, atau mencaritahu
praktik2 guru lain sebagai bahan untuk refleksi diri sebagai guru.
2. Bagaimana
cara memberdayakan murid agar mandiri menentukan cara ?
Jawaban dari Bu
Rodliyah:
Sebagai guru yang
memfasilitasi anak2 belajar, saya juga proses belajar ya.. ☺
Tapi pengalaman saya,
untuk memberdayakan murid menentukan cara, saya lebih memastikan dulu murid
tahu tujuan mengapa dia belajar, mengajak dia membicarakan apa yang akan dipelajari,
mengapa penting mempelajari. Kemudian banyak melibatkan murid dengan cara
mendiskusikan apa saja yang akan dilakukan untuk bisa mencapai tujuan itu? Kita
libatkan murid2 juga semacam tahu alur jadwal pembelajarannya.
Intinya pelibatan murid
sih bu, tidak sepihak kita sebagai guru memutuskan akan mempelajari suatu
pelajaran dan menuntut murid harus mengikuti cara guru. Karena saya pernah
menemui, justru dengan memberi kesempatan murid untuk bereksplor cara
belajarnya sendiri, lebih semangat belajarnya
3. Menarik
sekali nih materi dari bu Rodliyah tentang Merdeka Belajar, bahwa merdeka
belajar itu bukan hanya berhenti pada Guru saja, tetapi murid yang merdeka
belajar juga diperlukan untuk proses belajar bermakna di sekolah. Pertanyaannya
karena komponen penting pendidikan itu adalah murid, guru, dan orang tua.
Bagaimana upanya atau pengalaman bu Rodliyah untuk mengajak orang tua bisa
merdeka belajar juga? mendampingi proses
belajarnya anak dimanapun tempatnya, mengingat ini masih ada sekolah yang
melakukan PJJ karena pandemi?
Jawaban dari Bu
Rodliyah:
Saya setuju banget sama
bu Bu Lia tentang komponen penting pendidikan itu adalah murid, guru, dan orang
tua. Karena pendidikan bukan soal sekolah saja, tapi urusan bersama☺
Kalau pengalaman saya
mengajak orang tua bisa merdeka belajar, saya dan banyak kawan2 guru di Sekolah
Islam Umar Harun akan sering melibatkan orang tua dalam pendampingan belajar
anak ya.. terutama masa PJJ kayak gini..
Orang tua tentu kami
ajak mengetahui apa sih tujuan belajar anak? Biasanya kita sharing ke orang tua
tentang tujuan belajar anak melalui via WhatsApp ya. Memberi ruang orang tua
untuk mencari cara mendampingi anak belajar, dan mengajak orang tua
merefleksikan proses belajar anak
4. Bagaimana
caranya menjadi seorang fasilitator yang mudah beradaptasi dengan murid yang
berbeda-beda karakter?
Jawaban dari Pak Joko:
Untuk menjadi guru /
fasilitator yg baik mmang seharusnya bisa menyesuaikan kondisi dengan anak ya
pak...
Nahh, terkait ini
biasanya kita perlu memahami profil anak dulu ya pak, baik karakter belajarnya
maupun latar belakang kondisi keluarga.
Dengan memahami hal
tersebut, kita akan punya bekal awal untuk bisa memahami keberagaman anak.
Jadi nnti tidak mudah
syok dengan kejadian" yang terjadi ya pak,.. Selain itu, untuk menghadapi
karakter anak yang berbeda", kita juga butuh pengelolaan emosi yang baik,
lebih mengedepankan komunikasi efektif dari pada langsung mengintrogasi (misal
terjadi suatu masalah).
Nahh, kunci mudah untuk
mengelola emosi saat terjadi maslaah ini, biasanya saya mempraktikkan dengan
datang sebagai orang yg memang tidak tahu apa" (meski melihat
kejadiannya). Karena dg sikap seperti ini, kita bisa lenih tenang saat ngobrol
dg anak dan tidak menyalahkan di awal. Karena biasanya apa yang kita lihat,
memang tdk seperti apa yg sebenarnya terjadi.
Komentar
Posting Komentar