Liputan TPD ke-30 KGB REMBANG Miskonsepsi Asesmen dan Konsep Tujuan Belajar

 

Liputan

TPD ke-30 KGB REMBANG

Miskonsepsi Asesmen dan Konsep Tujuan Belajar

Apa itu assessment Nasional dan bagaimana cara guru menilai untuk menentukan kelulusan anak yang kompeten jika tidak ada lagi ujian?

La terus bagaimana guru mengetahui capaian anak dan memberikan penilaiannya?

Di sini kami bisa belajar lebih jauh di temu pendidik daerah online yang ke-30 komunitas guru belajar rembang dengan judul Miskonsepsi Asesmen dan Konsep Tujuan Belajar

Pada diskusi kali ini KGB Rembang mengundang narasumber yaitu Ibu Amalia Jiandra Tiasari dari Kampus Guru Cikal dan akan dipandu Ibu Barirotut TaQiyyah dari Sekolah Islam Umar Harun Sarang, Rembang. Melaui WhatsApp Grub KGB Rembang, pada hari Ahad, 14 Maret 2021, pukul 15.00-16.30 WIB.

Sebelumnya dari Tim akan menyebarkan flayer, dan materi. Di situlah teman-teman bisa membaca dan memahami. Bahkan yang ingin bertanya terkait assessement bisa menyebutkan nama, asal sekolah & pertanyaannya bisa di tulis sebagai berikut:

 

1. Bagaimana cara membuat hasil asesmen bersama untuk didiskusikan bersama dengan anak usia 3-4 tahun? (Bu Aisyah, mengajar KB B)

2. Sejauh apa asessment belajar ini dapat menggambarkan peningkatan siswa dalam proses belajarnya? Agar orangtua juga dapat mengetahui dimana titik peningkatan anak. Karena kebiasaan yang masih melekat bahwa melalui nilai angkalah prestasi anaknya dapat terlihat. (Bu Nisa', Guru SD)

3. Sejauh mana assessment ini dapat mengukur penilaian pada siswa di saat pembelajaran jarak jauh ini? Sedangkan dalam pembelajaran jarak jauh ini ada anak yang sama sekali tidak mengikuti pembelajaran. (Pak Udin, Guru MTS)

4. Saya memiliki kelas yang muridnya beragam. Selama ini juga saya dan tim melakukan personalisasi belajar terhadap anak² yang kebutuhannya berbeda-beda itu. Tapi, saat asesmen, semua anak mendapatkan bobot asesmen yang sama. Ini nanti yang berbeda hanya di hasil pemetaan capaiannya dan tindak lanjut pendampingannya. Tapi saya kok merasa yg kami lakukan ini kurang adil untuk salah satu murid kami yang start kemampuannya sudah berbeda dengan teman²nya.

 

Pertanyaannya..

Apakah asesmennya pun sebaiknya dibedakan untuk anak² yang kebutuhannya berbeda ini, menyesuaikan dengan kemampuan awal si anak, atau bisa saja disamakan asesmennya nanti cukup di tindak lanjut pendampingan belajarnya saja yang berbeda? (Bu Chorid, Guru SD)

5.Apakah  assessment saat direfleksikan itu sama dengan pengulangan materi yang sudah dipelajari dari awal sampai sebelum assessment diberikan? (Bu Jazil, Guru SD)

 

Setelah pertanyaan terkumpul akan kami kirimkan kepada narasumber, dan di saat diskusi berjalan moderator memandu untuk merivew lagi pertanyaan yang sudah terkumpul di hari sebelumnya. Dan inilah jawaban di setiap point tersebut

1. Bagaimana cara membuat hasil asesmen bersama untuk didiskusikan bersama dengan anak usia 3-4 tahun? (Bu Aisyah, mengajar KB B)

- Kita bisa mengajak refleksi dan melakukan asesmen diri. Tentu pertanyaannya menyesuaikan dengan kemampuan komunikasi dan bahasa anak. Misalnya "Bagaimana perasaanmu setelah menyelesaikan tugas ini?" "Bagian mana yang sulit?" "Bagian mana yang mudah?" Atau bisa menunjuk emote perasaan setelah mengerjakan tugas dan menanyakan kepada dia senang/sedih/bingung

2. Sejauh apa asessment belajar ini dapat menggambarkan peningkatan siswa dalam proses belajarnya? Agar orangtua juga dapat mengetahui dimana titik peningkatan anak. Karena kebiasaan yang masih melekat bahwa melalui nilai angkalah prestasi anaknya dapat terlihat. (Bu Nisa', Guru SD)

- Dalam asesmen sebagai proses belajar kita perlu mengumpulan data dengan berbagai strategi misalnya. Catatan observasi atau refleksi murid. Dari situ kita bisa memberikan narasi di laporan belajar. Dalam laporan belajar kita juga menginformasikan sudah sampai tahap mana murid belajar: awal, mampu atau sudah mahir. Sehingga orangtua bisa tahu tahapan saat ini dan sama2 bersama murid menetapkan tujuan belajar berikutnya. Dari situ kita bisa melihat gambaran proses belajar murid

3. Sejauh mana assessment ini dapat mengukur penilaian pada siswa di saat pembelajaran jarak jauh ini? Sedangkan dalam pembelajaran jarak jauh ini ada anak yang sama sekali  tidak mengikuti pembelajaran. (Pak Udin, Guru MTS)

- Asesmen ini akan jauh lebih efektif dengan melibatkan murid dan orangtua. Murid bisa melakukan penilaian diri. Orang tua juga perlu tujuan belajar murid harapannya bisa ikut terlibat atau memberikan informasi ke guru tentang perkembangan belajar murid. Yang sudah sempat saya bahas di voice note pentingnya melakukan asesmen di awal yaitu asesmen untuk belajar yang sifatnya mengambil data/informasi tentang murid baik dari faktor non kognitif/kognitif sehingga bisa merancang pembelajaran sesuai kebutuhan murid

4. Saya memiliki kelas yang muridnya beragam. Selama ini juga saya dan tim melakukan personalisasi belajar terhadap anak² yang kebutuhannya berbeda-beda itu. Tapi, saat asesmen, semua anak mendapatkan bobot asesmen yang sama. Ini nanti yang berbeda hanya di hasil pemetaan capaiannya dan tindak lanjut pendampingannya. Tapi saya kok merasa yg kami lakukan ini kurang adil untuk salah satu murid kami yang start kemampuannya sudah berbeda dengan teman²nya. (Bu Chorid,Guru SD)

 

-Wah keren pak/bu ya ini? Sudah membuat rancangan sesuai dengan kebutuhan tiap murid. Boleh berbagai pak/bu di grup?  Agar bisa jadi inspirasi yang lain. Betul bu, perlu menyesuaikan pendampingan belajar juga. Mungkin akan berbeda kecepatan belajar tiap anak. Yang paling penting tujuan belajar yang sesuai kebutuhan murid dan bersifat mungkin (possible) dicapai murid tidak terlalu di atas (sulit) atau di bawah (terlalu mudah).Sebaiknya menyesuaikan dengan kemampuan awal murid bu. Itu mengapa kita penting mempunyai data asesmen untuk belajar secara kognitif sehingga tahu pengetahuan awal murid. Dalam praktiknya dalam satu kelas bisa target belajarnya sama namun disesuaikan strategi atau produk belajarnya. Misalnya tujuan memahami cara menjaga kesehatan. Semua mencapai tujuan yang sama namun ada yang belajar dalam kelompok besar, ada yang belajar dalam kelompok kecil. Ada yang perlu bantuan tambahan dari guru. Ada yang asesmen terhadap belajarnya dengan produk video atau gambar. Menyesuaikan murid

 

5. Apakah  assessment saat direfleksikan itu sama dengan pengulangan materi yang sudah dipelajari dari awal sampai sebelum assessment diberikan? (Bu Jazil, Guru SD)

-Belum tentu pengulangan dari awal bu. Namun apa yang belum dipahami. Mungkin bisa memberikan sumber2 pengetahuan tambahan untuk memberikan pemahaman utuh

6. Adakah asesmen yg menarik, sehingga siswa mau mengikutinya. Karena selama PJJ ini banyak siswa yg sama skali tdk mengikuti pembelajaran, bahkan tdk mengikuti UH juga. Dan dari sini lama kelamaan akhirnya smakin banyak anak2 yg tidak mau sama skali mengikuti pembelajaran (pasif). (Susiana, MTsN 1 Tuban)

-Ada bu. Kalau teknologi ada quizizz itu anak2 mengerjakan kuis secara online anak2 langsung tahu dimana posisinya dari kelas. Seru itu bu 🙈 Kalau selain teknologi seperti itu bisa memberikan anak2 pilihan projek. Misalnya membuat video, gambar, tulisan sesuai minat anak

Di akhir diskusi para peserta bisa menyampaikan refleksi setelah mengikuti diskusi di atas. Salah satu refleksi dari peserta sebagai berikut

 

Komentar